Jumat, Juli 30, 2010

Bilik yang Terkunci

DILIHATNYA kamar itu masih tertutup rapat, Ibu tidak ingin keluar dari kamarnya? Mungkin dia sedang asyik menikmati sendiri kamar yang lebih besar dan indah dari kamarnya. Sungguh dia kepingin menyelinap masuk dan melihat ke dalam, dengan sepuas hati. Keinginan itu akan dilakukan sekarang. Sebenarnya Mai sudah tidak sabar menunggu Ibu bangun. Kalau saja, dia punya keberanian untuk mengetuk kamar Ibu, tentu saja semua keinginannya akan cepat terlaksana. Mai melihat jendela kamar ini masih tertutup rapat, tidak mungkin bisa melihat ke dalam. Ayah pasti sejak dari tadi pergi. Mai melihat ke jam, sudah hampir jam enam pagi, sebentar lagi ia harus berangkat sekolah. Kemarin dia tidur sampai larut malam, banyak sekali PR yang harus dikerjakan. Menurut Ibu memang PR sangat penting, bukan kamar Ibu.


Kamar Ibu adalah tempat orangtua beristirahat setelah capek mengurus anak-anaknya sepanjang hari. Kembali Mai melihat ke tirai tebal. Bayangkan Ibu yang cantik tidur dengan nyenyak di atas sprei berenda berwarna merah muda. Mata Ibu terkatup rapat dan bibirnya yang mungil tidak tekatup. Ibu kalau tidur memang cantik. Mai pernah melihat sekali, dan sebelum puas bapak sudah menutup pintu kamar dan berkata, “Masuklah ke kamarmu, Ibu lagi tidak enak badan.” Mai sebetulnya kepingin bertanya, “Mengapa saya tidak boleh menjaga kalau memang Ibu sakit?” Tapi sebelum pertanyaan itu muncul Bapak berkata dengan marah, “Ayo tunggu apalagi, kerjakan PRmu saja dengan baik.” Kemudian Bapak menutup kamarnya rapat sekali.

Mai kadang berpikir, alangkah bahagianya waktu dia masih kecil dan tidur di antara mereka. Jadi di tengah ejekan kakak lelakinya yang mengatakan, bahwa perempuan tidak bisa main sepak bola. Mai sebenarnya lebih suka main di kamar Ibu. Tapi setelah dia naik kelas dua SD, Ibu tak mengijinkan Mai bermain di kamar lagi. Apalagi sekarang dia sudah duduk di kelas tertinggi SD. Menurut pikiran Ibu, lebih baik dia bermain dengan Didit, atau belajar sendiri di kamar, dengan tekun. (Mai tidak suka dengan anjuran itu).

Karena merasa berpikir kelewat keras, Mai mengeryitkan dahi. Dia mencoba berpikir keras sekali, mengapa orangtuanya tidak mengijinkan Mai berlama-lama di kamar mereka. Apakah ada rahasia? (Dia penggemar cerita lima sekawan), apakah dia juga berahasia kalau sudah menjadi orangtua, apakah orangtuanya punya rahasia besar, yang harus disembunyikan terhadap anaknya sendiri? Mai mengatupkan bibirnya, dia bukan anak-anak lagi. Bulan kemarin, dia mendapatkan haid yang pertama. Ibu bilang, dia sudah jadi perawan.

Mai kemudian merasa capek. Sebentar lagi, didit akan memanggilnya untuk mengajaknya berangkat sekolah bersama. Memang, kalau dia tidak rajin sekolah, bisa-bisa tidak lulus ujian. Dia tak mau mengecewakan orangtuanya. Masalahnya Ibu pernah bilang begini, “Bapakmu seorang pekerja keras, mencari nafkah untuk kesenangan kita semua. Dia memang orang yang baik, kalaupun dia kadang-kadang marah, mungkin capek.”

Mai kadang-kadang tidak mengerti ucapan itu. Tetapi sebagai pelajar kelas enam SD, dia kepingin mencernakan apapun ucapan orangtuanya. Mai, kembali melihat ke tirai itu, dia ingin punya kesempatan untuk melihat kamar tersebut, sungguh dia tak tahu sebab apa Ibu sangat melarangnya. Kakak lelakinya tak pernah perduli dengan larangan itu. Waktu hal itu dibicarakan Mai kepada Kakaknya, pelajar kelas tertinggi SMP itu bilang, “Jangan dicampurkan antara hayalan dan kenyataan. Mungkin itu rahasia mereka yang belum saatnya di bagi kepada kita. Jadi kamu jangan repot saja dengan urusan yang remeh itu.” Mai tentu saja tidak suka mendengar ucapan yang rasanya meremehkan itu.

Menurut perasaan Mai. tak seorangpun perlu tahu apa yang jadi keinginannya itu. Mungkin begitulah hakekat kehidupan orang dewasa, semua punya rahasia yang harus disimpan sendiri. Mai memang kini bukan anak-anak lagi. Jadi seperti Ibunya, dia juga punya rahasia. Mai mengeryitkan dahinya. Sebagai perempuan yang sudah besar, dia juga ingin tahu mengapa kamar ibu sepertinya menyimpan rahasia. Mai sebenarnya tidak suka yang serba rahasia itu. Dia sebenarnya suka melihat semua dengan jelas. Tapi, mungkin itu dunia orang dewasa. Sebagai perempuan dewasa, dia menganggap perlu tahu kehidupan orang-orang dewasa. Terdengar suara Didit mengajaknya sekolah, dia mendadak pusing. Mai masuk ke dalam rumah, sebelum Didit bertanya lebih lanjut, mengapa hari ini dia tak mau pergi sekolah. Kembali dia terduduk di muka kamar Ibu. Dia sudah punya alasan mengapa pagi ini dia tidak harus berangkat ke sekolah.

Dia sedikit pusing. Kalau waktu kecil, dia sakit, ibu akan memeluknya erat di tempat tidurnya yang berenda. Badan ibu yang hangat, membuat dia merasa mengantuk. Kali ini dia kepingin dipeluk Ibu erat, di tempat tidurnya. Tentu saja, dia tak bakal tidur seperti masa kecilnya. Tapi, dia akan mencoba menangkap rahasia kamar Ibu! Mai tersenyum sendiri. Sebagai perempuan yang sudah besar, memang muncul kilatan pikiran yang tidak ada kalau kita masih anak-anak. Kalau kita orang dewasa yang penuh rahasia, sehingga perlu muncul akal-akalan seperti kini. Mai tersipu, seandainya dia, Didit, pasti dirinya tidak tertarik kamar ibu. Kata Didit kamar ibunya, “Tidak ada rahasianya.” Dia melihat kamar Ibu tak ada tanda-tanda Ibu bangun.

Sungguh, di tengah-tengah orang dewasa yang lain Mai merasa tidak mengerti, bukan saja karena kerahasiaan mereka tapi juga banyak hal, yang cuma sedikit dibukakan kepada orang lain. Mereka semua seperti menyuruhnya menebak jawaban yang pasti rumit. Mai sebenarnya kepingin protes. Tapi orangtuanya akan marah kalau diprotes. Mai mendadak ingat sesuatu, bisa jadi Ibu memang sengaja menutup pintu erat-erat, sebab Mai akhir-akhir ini sering melongok ke dalam kamar. Bahkan orangtuanya pernah memergoki dia dan berkata begini, “Mai apakah kamu tidak punya pekerjaan lain, kecuali mondar-mandir di kamar kami. Apakah kamu menganggap sopan berada di kamar orang tua?” Mai tentu saja malu mendengarkan ucapan itu, tapi, dia tak bisa menerangkan bahwa keinginan yang paling kuat akhir akhir ini ialah melihat kamar orangtuanya, kemudian tiduran di tempat tidur mereka yang berenda.

Dia merasa bertambah pusing. Kalau saja, dia punya keberanian untuk mengetuk pintu. Hal ini tidak pernah dilakukan, sebab orangtuanya, tidak pernah mengijinkan dia mengetuk pintu dengan alasan apapun. Pada waktunya Ibu akan keluar sendiri, untuk mengurus rumah tangga mereka. Bapak, selalu bilang, “Ibulah ratu rumah ini.” Ibu memang pantas disebut ratu, kulitnya putih, dan kalau tidur cantik seperti puteri tidur yang cantik. Mungkin karena itu, Bapak sangat sayang padanya. Mai merasa lapar, waktu sarapan pagi sudah lewat, Ibu belum juga bangun. Mungkinkah Ibu sakit? Mai menggelengkan kepalanya. Kemarin, dia mendengar, Ibu masih bergurau dengan bapak.

Tawa Ibu terdengar pelan dan melodis, bahkan pada waktu makan malam, orang tuanya juga mengajak dia bergurau. Mai tidak berselera menanggapi, dia terlampau lelah karena PR yang bertumpuk dan semakin sulit. Dan orang tuanya menganggap itu yang terbaik buat Mai, dengan kesibukannya, keinginannya untuk mengetahui rahasia orangtuanya berkurang. Jadi menurut orangtuanya, sekolah tanpa PR, ialah sekolah yang jelek. Mai sekarangm emberanikan diri untuk mengetuk pintu, tak ada jawaban dari dalam. Mai menghentikan ketukannya, menempelkan telingannya ke pintu, dan mengintai ke lubang kunci. Tak terdengar suara apa pun. Cuma desir angin yang terasa di kulitnya. Mai takut, tapi kemudian merasa berpikir, tak mungkin ada hantu pada pukul tujuh pagi. Yah mungkin Ibu barusan tidur. Jadi tak bisa dibangunkan. Atau mungkin Ibu sakit, akhir-akhir ini Ibu memang sering ke dokter.

Beberapa bulan yang lampau, Bapak begitu susah, karena Ibu sakit, dan mesti dirawat di rumah sakit. Bapak selalu bilang, dia tak bakal bisa hidup, kalau ditinggal Ibu. Mereka berdua lantas bertangisan, Mai merasa tersisih. Tapi dia merasa malu sebab dia toh sudah besar, tak perlu terlampau mengurusi tetek-bengek orangtuanya. Kakak lelakinya mungkin benar ketika bilang, “Buat apa mengurusi mereka, kalau saya yang penting uang saku tetap lancar.” Mai sungguh tidak sepaham. Dan kini dia juga tidak tahu mengapa dia merasa sendiri. Jelas dilihatnya tadi pagi, kakaknya bersiul sebelum berangkat sekolah. Kata kakaknya, dia tak tertarik pada rahasia apapun, kecuali sepak bola. Mai menganggap aneh pernyataan kakaknya, mungkinkah lelaki tidak banyak tahu tentang rahasia alam. Dia tersenyum, kalau begitu jadi perempuan enak, tahu banyak rahasia alam. Sungguh bukan karena itu saja, dia kepingin melihat kamar Ibunya. Astaga, dia merasa seperti orang yang paling goblok. Agaknya, kamar ibu dari tadi tidak terkunci. Mai membuka pelan sekali, kemudian berjingkat-jingkat, dia masuk ke dalam kamar.

Ibu kelihatan tidur nyenyak, begitu cantik. Mai girang, ini berarti dia bisa melihat kamar ini, sepuas hati tanpa takut dimarahi oleh ibunya. Dia melihat setiap perabot dalam kamar ini, menyentuhnya, dan terpesona! Mai melirik ke tempat tidur Ibu yang berenda ini. Seandainya Ibu mau, dia kepingin dikeloni seperti masa kecilnya. Mai menggelengkan kepalanya, pasti Ibu tidak sepaham. Dengan cepat Ibu akan mengusir dirinya dari kamar ini. Padahal, dia belum puas melihat kamar ini. Maimunah terpesona. Kamar ini sepertinya mengandung suatu misteri, dia tidak tahu di mana kerahasiaan itu. Apakah karena dia masih pelajar SD. Mai betul-betul ingin membangunkan Ibu dan membicarakan hal itu, seperti dua orang yang sudah dewasa. Tapi Mai tidak yakin Ibunya mau, yang pasti Ibunya akan marah melihat ia di sini pada jam sekolah lagi. Padahal cita-citanya kepingin sekolah sampai bisa menamatkan perguruan tinggi.

Mendadak Mai ingat sekarang, ada dua ulangan, tapi meninggalkan kamar ini enggan rasanya. Apalagi, ibu kelihatan begitu cantik, oleh karena itu Bapak tak pernah marah kepada Ibu. Tetapi, tidak begitu kepada Mai. Kalau Bapak tahu dia membolos hari ini, pasti Bapak akan marah-marah lagi. Sebab kelakuannya tidak menunjukkan kesungguhannya melihat masa depannya.

Mai kepingin cepat-cepat dewasa. Orang dewasa seperti Ibunya mungkin lebih tahu banyak. Sedang sebayanya, cuma tahu serba sedikit. Ibunya yang lebih tahu banyak senang sekali. Buktinya dia kini tidur nyenyak, sama sekali tidak tahu kalau Mai berada di sini. Namun, jika Ibu bangun, pasti Ibu akan memarahinya karena dia membolos. Mai pasti tidak bisa menjawab. Sebab, itu rahasia bagi orang yang sudah dewasa. Dia merasa layak menyimpannya.

Mai tersenyum, masa kanak-kanaknya sudah lewat. Dia melihat isi kamar ini satu persatu, mungkin dia akan menjadi orang dewasa yang akan ketemu macam-macam rahasia. Mai merasa gelagapan, Ibu masih tidur nyenyak dan cantik. Mai memperhatikan wajah ibu baik-baik. Rasanya, Ibu menolaknya dan menyuruh dia menebak kehidupan ini sendirian saja. Mai mengernyitkan dahinya, dia tak mau sendirian menebak teka -teki itu. Mestinya orangtuanya menerangkan apa arti teka-teki kehidupan itu. Mestinya Ibu membicarakan segala hal yang dia ketahui kepada Mai, dan membicarakan masalah itu seperti dua orang sahabat.

Mai melihat Ibu kembali, dia menjadi gugup dan ingat lagi, seharusnya dia tidak berada di sini, tapi bermain bersama Didit. Lama Mai berpikir, kemudian Mai mencoba membangunkan Ibu, karena ada perasaan senyap.

Dia berharap mata Ibu terbelalak melihat Mai dimukanya. Mai menggoncang-goncangkan Ibu agar Ibu bangun, dia sudah siap dimarahi karena bersalah, yaitu membolos hari ini. Guncangan Mai tidak membuat Ibu jadi bangun. Ibu masih terus tidur dan kelihatan begitu aneh.

Mai jadi ketakutan, dia keluar dari kamar ini, memanggil-manggil setiap orang dan menanyakan kepada setip orang, mengapa ibu tidur, seperti puteri tidur yang cantik.

Kompas, 15 Maret 1987

Komentar
Tambah Baru Cari
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 7 Tamu online

Login Form