Kekuatan dongeng memang berada pada imajinasi. Imajinasi yang tertanam itu membuat sebuah dongeng bisa bertahan sepanjang masa. Namun, bagaimana jika ada imajinasi yang nyeleneh?
Itulah yang dilakukan Ron Clements dan John Musker ketika mengangkat novel The Frog Princess karya ED Baker ke layar lebar. Clements dan Musker menghadirkan versi berbeda dari dongeng aslinya yang dikarang oleh Grimm Brothers.
Ron Clements dan John Musker yang menulis skenario dan menyutradarai kisah ini sengaja menjadikan film ini sebagai sebuah tontonan keluarga yang ringan dan menghibur.
Adalah Pangeran Naveen dari Negeri Maldonia yang dikutuk menjadi katak. Awalnya, Naveen adalah seorang putra mahkota yang malas dan hedonis. Setiap harinya, ia hanya ingin bersenang-senang. Ia datang ke pesta-pesta hanya untuk dikelilingi wanita.
Raja Maldonia gusar melihat tingkah laku calon penerus kerajaannya. Ia memaksa Naveen untuk menghentikan kegiatannya dan memilih seorang wanita untuk dijadikan permaisuri. "Kalau tidak, aku akan menghentikan uang jajanmu!"
Naveen tentu saja gusar. Ia tidak bisa hidup tanpa uang dari ayahnya. Saat tiba di New Orleans, Naveen berencana menikahi seorang gadis bernama Charlotte LaBeouf. Naveen kemudian meminta pertolongan seorang dukun voodoo bernama Doctor Facilier. Tapi bukannya membantu, dukun itu malah menyihir Pangeran Naveen menjadi katak.
"Kamu akan menjadi manusia kembali jika dicium oleh seorang putri!" Ternyata Facilier telah berkomplot dengan Lawrence, pembantu Naveen, untuk menguasai New Orleans. Lawrence diiming-iming akan mendapatkan Putri Charlotte.
Setelah Naveen berubah menjadi katak, ia bertemu dengan wanita yang mirip seperti putri. Dia adalah Tiana LaBeouf. Naveen berusaha mendapatkan ciuman dari Tiana agar kutukannya hilang. Sayangnya, ketika ciuman itu berhasil didapatkan, Naveen tidak berubah jadi manusia. Justru Tiana yang ikut-ikutan jadi katak.
Dua katak jadi-jadian ini kemudian memulai pengembaraannya untuk mengembalikan dirinya sebagai manusia. Dalam pengembaraannya, mereka mulai jatuh cinta. Tapi masalahnya, siapa yang harus mencium mereka agar bisa menjadi manusia kembali?
Sangat Menghibur
Hal nyeleneh itulah yang mungkin menjadikan kisah The Princess and the Frog ini sangat menghibur. Clements dan Musker sengaja menguatkan kultur afroamerican dalam filmnya. Mulai dari setting New Orleans, musik jaz, hingga Putri Tiana yang diwakili dengan sosok wanita kulit hitam. "Dalam imajinasi, apa pun bisa terjadi. Apa salahnya jika jaz mendominasi tata musik dalam kisah ini," ujar John Musker.
Untuk menguatkan kisah ini sebagai tontonan keluarga, Clements dan Musker menyisipkan beberapa lagu untuk mengantarkan alur cerita. Sehingga, film ini juga bisa disebut sebagai sebuah drama musikal.
Namun, yang membuat film ini berkesan adalah teknik animasi yang digunakan John Musker dan Ron Clements. Mereka sengaja menggunakan teknik animasi gambar tangan. Berbeda dengan maraknya film animasi yang mengandalkan kecanggihan komputer dan format tiga dimensi, mereka lebih percaya bahwa goresan-goresan gambar tangan lebih mampu membawa penonton dalam imajinasi yang bebas.
Hal inilah yang membuat The Princess and the Frog sangat disukai saat pemutaran pertamanya di Amerika Serikat dan Kanada. Film ini sempat menduduki peringkat pertama box office dengan perolehan mendekati US$ 30 juta. Gambar-gambar yang menarik dan pesan moral yang kuat, menjadikan The Princess and the Frog sebagai tontonan keluarga cocok liburan Tahun Baru ini. [SP/Kurniadi]
______________________________
Film: The Princes and the Frog
Sutradara: Ron Clements dan John Musker
Pemain: Anika Noni Rose, Bruno Campos, dan Keith David
Skenario: Ron Clements dan John Musker
Genre: Animasi/Keluarga
Produksi: Walt Disney Pictures
Walt Disney Pictures
http://www.suarapembaruan.com/News/2010/01/03/index.html
| Komentar |
|
!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."
Kontribusi Anda
Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.
Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.
Newsletter
Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita, informasi dan artikel terbaru dari www.averroespress.net. Klik link berikut ini.












"LAWAS"
tugas utama jurnalis adalah mendorong realisasi Indonesia Merdeka serta menga...
lipstik. CSR berfungsi sebagai lipstik korporasi agar tampak lebih cantik dan...
adanya politik kartel dan kartel politik menandakan sistem politik kita sedan...
gw pernah nonton film ini tapi jujur gw kurang suka karna ini adalah film dra...