Jumat, Maret 12, 2010

Review Press

Gus Dur dan Buku


SUATU sore, ketika senja merambah cakrawala di Jalan Matraman Kecil No 8 Jakarta, Nyai Sholehah kelimpungan mencari Abdurrahman ad-Dakhil. Putra sulung yang tempo itu berusia belasan tahun tersebut tak kunjung muncul. Ternyata, tak berapa lama Gus Dur (kecil) itu menyembul. Kepada ibunya, dia berkilah tak ke mana-mana, melainkan sejak semula membaca buku di balik daun pintu.

Cucu KH Hasyim Asy'ari -pendiri ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama- tersebut sejak kecil memang fenomenal. Zainal Arifin Thoha dalam Jagadnya Gus Dur (2003) menyebut Gus Dur adalah enigma. Gus Dur merupakan satu-satunya sosok yang sepanjang sepak terjang hidupnya selalu dikawal teka-teki dan diselubungi misteri. Sering perkataan dan perilakunya membuahkan kontroversi. Tetapi, diam-diam tak sedikit yang mengamini bahwa Gus Dur dianugerahi kecerdasan futuristis. Sehingga, apa pun kontroversi yang mengemuka diyakini perlahan-lahan dan kelak terkuak kebenarannya.

   

Tan Malaka dan Buku-Buku Penjebol Wacana

Sebagaimana diutarakan Goenawan Mohamad, pada hari-hari dalam bulan Agustus 1945, yang runtuh bukan sebuah kekuasaan politik. Hindia Belanda sudah tidak ada, otoritas pendudukan Jepang yang menggantikan juga baru saja kalah. Yang ambruk adalah sebuah wacana.

Sebuah wacana adalah sebuah bangunan perumusan. Tapi, yang berfungsi di sini bukan sekadar bahasa dan lambang. Sebuah wacana dibangun dan ditopang kekuasaan dan sebaliknya, membangun serta menopang kekuasaan itu. Ia mencengkeram. Kita takluk dan bahkan takzim kepadanya. Sebelum 17 Agustus 1945, ia membuat ribuan manusia tak mampu menyebut diri dengan suara penuh, ''kami, bangsa Indonesia'' -apalagi sebuah ''kami'' yang bisa ''menyatakan kemerdekaan'' (Tempo, 8/09).

   

Sound Governance dan Arah Baru Paradigma Pembangunan

 


 

Perbincangan akademik tentang Sound Governance (SG) sudah demikian marak. Ia hadir untuk melengkapi kegagalan konsep Good Governance (GG) yang sudah berlaku selama ini. SG melihat bahwa upaya merestrukturisasi pola relasi pemerintah, swasta dan masyarakat secara domestik dengan mengabaikan peran aktor internasional adalah pengingkaran atas realitas global. Dampak dari pengingkaran ini adalah banyaknya variabel, yang sebenarnya sangat penting, tidak masuk ke dalam hitungan. Variabel yang absen itu adalah kearifan lokal (akibat hegemoni terma ‘Good’ oleh Barat) dan dampak dari kekuatan kooptatif internasional. Ruang kosong inilah yang coba diisi oleh sebuah paradigma baru yang di sebut Sound Governance.

   

Ahmad Wahib dan Supremasi Keaksaraan

Dalam sebuah diskusi ringan di warung kopi, seorang kawan asal Madura membeberkan fakta bahwa di tanah kelahirannya, ternyata, masih banyak masyarakat yang buta huruf. Berdasar data yang dia tunjukkan, di antara 3 juta masyarakat se-Jawa Timur yang masih buta huruf, persebaran terbesarnya berada di empat kabupaten di Madura.

Seketika itu saya jadi teringat pada sosok Ahmad Wahib. Tokoh pemikir Islam (yang juga) kelahiran Madura yang merantau ke Jogjakarta untuk kuliah dan menebarkan gagasan-gagasan progresifnya. Wahib adalah salah seorang prototipe intelektual organis di Indonesia. Wahib begitu benci melihat tingkah para pemikir yang lebih suka singgah di menara gading. Wahib juga intelektual yang begitu menekankan pentingnya mengembangkan minat keaksaraan (baca-tulis) bagi umat.

   

Halaman 1 dari 22

generalbanner

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 2 Tamu online

Login Form