Jumat, Juli 30, 2010

Berlatih Jujur lewat Tulisan

MENULIS itu tidak sekadar menyampaikan ide yang ada pada seseorang. Tetapi yang lebih penting dari itu adalah bagaimana seseorang konsisten dan bisa melaksanakan apa yang dia tulis. "Menulis itu belajar jujur pada diri sendiri, karena seseorang yang telah menulis sesuatu seharusnya juga bisa melaksanakan apa yang dia tulis," kata Stefanus Kartono (27/10).

St Kartono, bisa jadi adalah satu dari sedikit guru yang aktif menulis. Banyak guru yang enggan mengembangkan kemampuan diri di bidang karang-mengarang karena takut dikritik, namun St Kartono coba mendobrak stigma negatif tersebut. Guru di SMA Kollese De Brito Yogyakarta ini mulai menuangkan ide-idenya melalui berbagai artikel yang diterbitkan oleh sejumlah media massa.

"Sebenarnya sejak SMP saya sudah sering menulis, tetapi benar-benar memublikasikan tulisan melalui media baru sejak tahun 1991," ujar lulusan IKIP Sanata Dharma Yogyakarta tersebut.

Dari menulis artikel itu, kemudian berkembang menjadi menulis buku. Dan pada tahun 2001 buku pertama St Kartono yang berjudul Menabur Benih Keteladanan dicetak. Kemudian tiap tahun ia meluncurkan buku barunya. Dan semua buku-buku St Kartono selalu bicara soal pendidikan, bidang yang memang dia geluti.

"Untuk saat ini setiap bulan antara 2-3 artikel bisa dimuat di koran, sementara untuk buku saya usahakan setiap tahun keluar satu buah," kata pria kelahiran Sukoharjo, 3 September 1965.

Lalu apa yang mendorong ayah dua anak ini untuk menulis secara terbuka. "Kegelisahan terhadap situasi yang saya hadapi yang menjadikan saya harus berteriak dengan cara menulis," kata St Kartono.

St Kartono mengakui, banyak hal di dunia pendidikan yang menjadikan dirinya begitu gelisah. Situasi dan sistem pendidikan, menurutnya, telah menjadikan pendidikan itu kehilangan roh dan tujuan utama. Khususnya di dunia pendidikan menengah yang merupakan dunianya.

"Setiap hari saya bertemu dengan anak-anak muda yang sedang dalam masa penting, tetapi banyak kesalahan pendidikan kepada mereka. Itu salah satu kegelisahan saya," katanya.

Menurut St Kartono, pendidikan tingkat menengah hanya sekadar memintarkan anak saja. SMA sebagai terminal sebelum masuk perguruan tinggi menjadikan orang beranggapan kemampuan otak menjadi hal yang utama. Dan satu hal yang dilupakan adalah soal rasa dan pembangunan kepribadian anak.

"Itulah yang menjadi masalah anak-anak, yang akhirnya saya tuangkan dalam tulisan untuk dipahami dan dicarikan solusi bersama," kata St Kartono.

Hampir semua tulisan St Kartono berbicara tentang pendidikan kepribadian yang kerap terabaikan. Masalah contoh dan teladan bagi siswa dari seorang guru adalah hal yang banyak dia sorot. Dan inilah yang kerap kali menjadi beban bagi dia karena harus mampu melaksanakan apa yang dia tulis. "Tetapi kalau sudah diyakini pasti bisa," katanya singkat.

Lalu apakah kegelisahan itu sendiri telah usai? Ditanya itu St Kartono hanya menggeleng sembari berkata. "Mungkin kegelisahan ini tidak akan berakhir, makanya saya juga akan terus berteriak dengan cara menulis," katanya. (Amiruddin Zuhri/P-1).

Sumber: Media Indonesia, Sabtu, 29 Oktober 2005
Komentar
Tambah Baru Cari
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 3 Tamu online

Login Form