Jumat, Juli 30, 2010

Hancurnya Etika Politik

“BANGSA ini semakin tak bermoral,” celetuk seseorang dalam sebuah perbincangan. Celetukan tersebut bukan tanpa dasar. Argumen mereka sangat jelas saat tontonan kebangsaan yang setiap hari disuguhkan oleh para pemimpinnya menampilkan moralitas hanya sekadarnya saja, bahkan tidak jarang tidak sama sekali. Bagaimana rakyat Indonesia bisa mengakui keterlibatan moral dalam setiap pertarungan kepentingan politik, jika apa yang sedang disaksikannya adalah korupsi yang semakin melembaga dan menomor satu, tidak saja di lingkup pemerintahan (yang sudah terbiasa sejak puluhan tahun lalu) bahkan di ruang sidang para wakil rakyat yang terhormat?

Ironisme sebagai bangsa beradab, yang (katanya) menghargai adat-adat ketimuran, yang (katanya) menjunjung tinggi nilai kesantunan, namun justru menjadi bangsa biadab dan korup kelas wahid. Sejujurnya, apa yang sebenarnya kita harapkan dari bangsa sebesar Indonesia ketika perjalanannya meniti peradaban justru semakin jauh meninggalkan moralitas? Apa pula yang kita cita-citakan sebagai Indonesia jika pondasi yang kita bangun saat ini dinodai dengan keserakahan, kesombongan, kebohongan dan ketidakadilan?

Maka, kita perlu mempertanyakan moralitas kebangsaan ini. Apakah gerangan moral? Apa standar-standarnya? Moralitas ialah kesadaran jiwa terdalam dari tiap-tiap manusia; kesadaran hati nurani untuk menghormati dan mencintai sesama, membela kaum tertindas, bersikap altruistik dengan mementingkan kepentingan masyarakat banyak dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai humanisme. Kesadaran jiwa ini tentu akan bertentangan dengan perilaku negatif seperti membakar orang, membom, membunuh, menipu, menindas, mengorupsi uang rakyat dan seterusnya. Maka, jika perilaku elit politik saat ini lebih dicerminkan di dalam perbuatan yang kedua, maka praktis akan hancur tatanan moral dan peradaban.

Karena itulah sesungguhnya tidak ada absurditas ketika kita bicara kebaikan-kebaikan moralitas, seperti diungkapkan para elit. Lebih menyedihkan lagi karena perilaku-perilaku seperti itu mendominasi kepolitikan Indonesia di masa yang mereka sendiri kerap mengatakannya sebagai reformasi –dan mereka adalah reformis. Moralitas tidak tercermin dalam setiap penegakan hukum yang dilakukan secara adil dan konsekuen, secara jujur dan konsisten. Kematian moralitas di sini bukan seperti jargon Nietzsche tentang kematian moral –sebagai kritik atas keangkuhan modernisme–, melainkan mati karena keberingasan pemimpin atas rakyatnya.

Benny Susetyo, "Hancurnya Etika Politik." Naskah ini diterbitkan oleh Penebit Buku Kompas.
Komentar
Tambah Baru Cari
debbi   |125.165.17.xxx |H:i:s d-m-Y
kpn artikel hancurnya etika politik ditulis?
Tulis Komentar
Nama:
Email:
 
Web/Blog:
Judul:
 
Masukkan kode anti SPAM yang Anda lihat di gambar.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 3 Tamu online

Login Form