Kamis, September 09, 2010

Katalog Buku Averroes Press

Masa Depan Otonomi Daerah

FENOMENA globalisasi yang dimensinya menjangkau aspek ekonomi, sosial dan politik dan tumbangnya rezim Orde Baru yang kemudian diikuti berlangsungnya pemilihan umum yang bebas pada 1999 lalu, telah menjadikan isu dan proses demokratisasi di Indonesia beroleh jalan yang relatif lapang dan hingga kini terus bergulir. Kendati implementasinya dalam beragam kebijakan masih berjalan pelan dan karenanya sempat membuat banyak orang tidak sabar, proses itu pada gilirannya juga menyentuh relung kehidupan pemerintahan di daerah.
   

Luka di Atas Luka

Dalam pekik kemerdekaan, kemenangan dan kedamaian negara
Segalanya diketahui oleh rakyat-rakyat yang cinta damai
Rakyat jelata dengan segala jiwanya, dan tekadnya berjuang
Rakyat jelata dengan beralas sepatu bumi rela untuk perang
Rakyat jelata dengan segala senjata bambu runcing
Siap melawan penyerang ……
Rakyat jelata dengan modal akal dan iman
Sanggup untuk menang ……

Akaha Taufan Aminudin, (2001), “Luka Di Atas Luka” (Averroes Press)
   

Vox Populi Vox Dei

“UANG bagi mereka adalah segala-galanya.” “mereka” itu adalah elit negara kita. Elit yang sudah lupa akan rakyat yang membiayai mereka itulah salah satu arah terjang karangan-karangan dalam jilid ini. Elit yang sedang merusak negara ini karena mereka berpolitik “tanpa suara hati”, karena agama pada mereka merosot menjadi “aspirasi” daripada “inspirasi”, karena bagi merekalah uang segala-galanya. Vox populi vox dei? Suara rakyat tentu belum pasti sama dengan suara tuhan. Suara rakyat pun sering miring dan out of tune. Tetapi hanya apabila elit yang berkuasa, atas teguran suara-suara dari rakyat, seperti suara rama beni, kembali ke akar yang ada di rakyat, indonesia dapat kembali mengangkat kepala dan membuka hati memberanikan diri untuk bersama-sama menyingsingkan lengan dan mulai dengan pekerjaan raksasa membangun kehidupan bersama yang beradab, adil, damai dan sejahtera (Franz Magnis-Suseno, Sj)

Benny susetyo (2004), Vox Populi Vox Dei” (194 hlm).
   

Namanya Massa

INI memang Kota Jakarta! Di kafe ini, saya ketemu massa. Matanya bagus! (tapi, dia tidak secantik maminya yang artis terkenal). Papinya, sutradara andalan, dalam dunia perfilman kita. Massa, acuh tak acuh saja, kala mas beny (teman sama-sama wartawan), mengajaknya ngobrol. Dia minum wiski (seperti minum air putih). Saya mungkin kelewat asyik melihatnya, sehingga mas beny berbisik, “kalau kamu sudah lama di jakarta, ada banyak perempuan, seperti itu.”

Ratna Indraswari Ibrahim (2001), “Namanya Massa” (LKiS dan PUSPeK Averroes).
   

Halaman 12 dari 12

Bookmark Artikel

Multi Bahasa

English Arabic French German Italian Portuguese Russian Spanish

Kontribusi Anda

Kami menerima artikel, berita, tips dan segala yang berkaitan dengan dunia buku, penerbitan, film, pendidikan, pengetahuan dan sejenisnya. Silakan melakukan registrasi dan kirim artikel Anda melalui form yang telah disediakan. Jangan lupa sebutkan sumber lengkap artikel yang berkaitan bila Anda mengambilnya dari sumber lain.

Ayo majukan dunia pendidikan dan buku di Indonesia. Terimakasih atas perhatian Anda.

Kami memiliki 2 Tamu online

Login Form